Guru Suka Tabok Kepala Murid SD Trauma dan Minta Pindah Sekolah

Guru Suka Tabok Kepala Murid SD Trauma dan Minta Pindah Sekolah, Tiga orang murid berseragam sekolah dasar terpaksa absen giat belajar- mengajar karena trauma dipukuli secara berlebihan oleh oknum guru berinisial S. Wali atau orang tua bersama ketiga pelajar tersebut pun melapor ke anggota DPRD Kota Binjai, Kamis (2/8). Mereka mengeluhkan penganiayaan guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 020252, Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Limau Mungkur, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai. Kehadiran ketiga wali murid bersama anak-anak mereka diterima Ketua Komisi C DPRD Binjai, Irfan Asriyandi dan anggota dewan yakni Hj Juliati, Norasiah, Syarif Sitepu, Gim Ginting, dan Edy Putra. Pertemuan belangsung di ruang Komisi C DPRD Binjai.

Novika Maya Sari, ibu dari murid FGL, mengatakan kedatangannya di DPRD Binjai untuk mengadukan kelakuan oknum guru yang memukul anaknya. Ia membeberkan anaknya mengalami trauma dan takut ke sekolah karena dipukul keras guru S pada bagian kepalanya.

“Anak kami minta pindah sekolah (karena trauma dipukul guru). Gurunya nggak ada minta maaf. Saat jumpa pun nggak ada itikad baik dia. Bukan satu murid yang sudah dipukuli kepalanya, tapi banyak murid. Makanya kami datang ke DPRD,” kata Novika.

Alasan pemukulan murid, menurut orangtua antara lain gara-gara buku pelajaran tertinggal di rumah. “Dipukuli kepalanya keras sekali, sampai trauma anak saya pergi sekolah. Kita sebagai orangtua pasti tidak terima,” ujar Novika.. Selain mengadu ke DPRD, Novika juga telah melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan oknum guru ini kepada pihak Polres Binjai. Laporan Novita diterima pihak Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polres Binjai dengan Nomor Laporan LPP/441/VIII/2018/SPKT-A. Surat laporan ditandatangani Kepala Unit SPKT Polres Binjai Aipda Irwan Sudianto, yang akan diteruskan ke Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satuan Reskrim.

“Buat laporan ke polisi karena dari pihak sekolah bergeming saat kami konsultasi. Guru yang mukul itu brondok di bawah kepala sekolah. Nama guru yang mukul itu Pak S… Saya membuat laporan ke polisi karena pihak sekolah tidak ada itikad baik kepada kami,” katanya.

Setelah mendengar keluhan tiga wali murid yang diduga jadi korban kekerasan oknum guru, Ketua Komisi C DPRD Binjai, Irfan menjelaskan masalah ini akan dibahas dengan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan guru yang terlibat.

“Komisi C akan memangil Dinas pendidikan, kepala sekolah dan guru yang diduga melakukan pemukulan untuk dilakukan RDP. Surat hari ini akan kita layangkan, Senin kita akan panggil. Cara mendidik serta pengajaran yang dilakukan oleh oknum guru di SDN 020252 salah.

Ia menegaskan, “Kami akan meminta pemerintah dan pihak kepolisian memberikan sanksi dan tindakan tegas kepada yang bersangkutan jika terbukti bersalah. Kami juga sangat kecewa dengan guru-guru seperti ini.”
DPRD akan memanggil gurun yang bersangkutan.

“Kita lihat ini semacam maniak karena keseringan, kalau syaraf dipukul bisa geger otak dan meninggal, kan bahaya ini. Jangan-jangan sudah banyak korban lainnya,” kata anggota DPRD, Hj Juliati.

Dalam rapat dengar pendapat, Dr Edi Putra mengatakan guru yang melakukan pemukulan harus dilakukan pemeriksaan kejiwaannya. Ada banyak faktor yang bisa memicu prilaku kasar seorang, misal kesehatan, atau kebiasaan buruk. Usai mendengar semua laporan, Ketua Komisi C hanya bisa memberi motivasi kepada ketiga murid yang terlihat dengan wajah trauma. Ia juga minta orangtua menyemangati anak-anak mereka.

“Tetap semangat ya, yang sabar ya anak-anak, besok sekolah lagi ya, gak udah takut. Bapak ibu juga anaknya di-support biar mau ke sekolah lagi,” ujar Edi.

Kenai Sanksi. Kepala Dinas Pendidikan Kota Binjai Dra Indriyani, malah dengan tegas mengungkapkan oknum guru berinisial S (mengajar untuk Bidang Studi IPA) sudah dilakukan pembinaan.

“Tentang insiden murid SD yang terjadi beberapa hari yang lalu, di Binjai Barat, Dinas Pendidikan Kota Binjai sudah melakukan upaya pembinaan terhadap para guru. Guru seharusnya memberikan pembinaan yang mendidik kepada siswa, apabila siswa melakukan kesalahan,” ujar Indriani.

Indriyani mengaku sudah bertemu antara Dinas Pendidikan, Kelompok Masyarakat, guru, Kepala Sekolah dan Komando Rayon Militer (Koramil) setempat. Guru yang dilaporkan akan diberikan sanksi yang tegas apabila nantinya terbukti bersalah.

“Akan melakukan teguran dan pembinaan serta sanksi tegas. Untuk pembinaan terhadap guru, kita mengacu kepada Permendikbud No 10 Tahun 2018. Acuan kita sesuai Permendikbud No 10 Tahun 2018, Pasal 4 ayat 1 dan 2,” katanya.

Indriyani juga mengatakan, sesuai hasil Laboratorium dokter dari RSUD Djoelham Binjai, bahwa Korban mengalami gejala demam berdarah.

“Hasil Laboratorium dari RSUD Djoelham, korban mengalami gejala demam berdarah,” ucapnya.

Adapun murid yang menjadi korban tersebut adalah FGL (11 tahun), warga Kelurahan Limau Mungkur, Binjai Barat. FGL pada Rabu (1/8) tidak membawa buku pelajaran IPA. Guru S lalu menghukumnya dengan menabok bagian kepalanya. Akibat pemukulan itu, hingga kini FGL menjadi trauma dan takut masuk sekolah.

Ibu FGL, Novika Maya Sari membantah soal hasil uji laboratorium. Dijelaskannya yang perlu diperiksa bagian kepala anaknya, namun pihak medis malah mengambil sample darah yang dijadikan klaim anaknya idap gejala demam berdarah.

“Saya tidak terima anak saya dipukul kepalanya dari belakang kuat kali, sampai trauma anakku enggak berani lagi pergi ke sekolah. Uji lab itu pun enggak sesuai, yang dipukul kan kepala, kenapa darahnya pula yang diperiksa laboratorium,” ujarnya.

“Dipukul bapak itu kuat kali kepala saya,” ujar Feril saat diminta reka ulang kejadian usai bertemu dengan anggota dewan Komisi C.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *