Iran Minta Uni Eropa Terapkan Jaminan Ekonomi Sebelum Sanksi AS

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif telah meminta negara-negara Eropa untuk menerapkan langkah-langkah ekonomi untuk melindungi perjanjian nuklir 2015 sebelum Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi pada Agustus hingga November mendatang.

Zarif menyampaikan pernyataan tersebut pada Jumat kemarin, setelah melakukan pertemuan di Wina, Austria, dengan Menteri Luar Negeri dari negara-negara yang masih terlibat kesepakatan multinasional setelah penarikan sepihak AS pada Mei lalu.

“Sekarang kita perlu memasuki tahap pelaksanaan,” Zarif, saat berbicara dalam bahasa Persia dan mengatakan kepada para wartawan yang berkumpul di ibukota Austria itu.

“Kita semua memiliki kerangka waktu yang ditentukan oleh sanksi AS, yang berarti tindakan harus dilakukan sebelum sanksi itu diberlakukan,”.

Dilansir dari laman Al Jazeera, Sabtu (7/7/2018), Iran telah mengancam akan menarik diri dari kesepakatan, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), jika negara itu tidak menerima jaminan ekonomi yang cukup dari Eropa.

Namun di lain sisi, AS juga mengancam negara-negara penandatangan JCPOA yang tersisa melalui sanksi hukuman, jika mereka terlibat dalam perdagangan dan investasi dengan Iran.

Tanpa memberikan rincian, Zarif mengatakan para pejabat Eropa memberikan penjelasan lebih lanjut terkait bagaimana jaminan akan diterapkan pada beberapa bidang seperti masalah minyak dan perbankan.

Sanksi AS diperkirakan akan kembali diterapkan pada November mendatang.

Perlu diketahui menjelang pertemuan pada Jumat kemarin, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan tidak mungkin bagi Eropa untuk menyusun paket ekonomi bagi Iran sebelum bulan November.

“Kami mencoba untuk melakukannya sebelum sanksi diberlakukan pada awal Agustus dan kemudian satu set sanksi lagi pada November, untuk awal Agustus tampaknya (waktunya) agak pendek, tapi kami mencoba melakukannya pada November nanti,” kata Le Drian.

Namun Le Drian juga memperingatkan Iran untuk menghentikan ancaman menarik diri dari kesepakatan jika tidak menerima jaminan yang cukup dari Eropa.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas juga menyampaikan bahwa kekuatan dunia tidak akan bisa memberi kompensasi penuh bagi perusahaan yang meninggalkan operasi mereka di Iran.

Maas menambahkan, diperlukan lebih banyak perundingan terkait masalah ini setelah dilangsungkannya pertemuan pada Jumat kemarin di Wina.

Sementara itu Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini mengadakan pertemuan penting dengan para diplomat penting dari Jerman, Prancis, Inggris, Rusia, Tiongkok dan Iran, serta Kepala Pengawas Nuklir PBB, dua bulan setelah keputusan Presiden AS Donald Trump yang menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015.

Pertemuan itu berlangsung pada Jumat kemarin, selama dua jam sekira hingga pukul 12.00 waktu setempat di hotel yang sama, dimana kesepakatan tersebut dinegosiasikan dan ditandatangani pada Juli 2015 lalu.

Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan tersebut, komisi gabungan pada kesepakatan nuklir itu tidak mengatakan sesuatu yang baru.

Sebaliknya, komisi tersebut memilih untuk menegaskan kembali komitmen mereka terkait implementasi penuh dan efektif dari perjanjian itu.

Jonah Hull dari media Al Jazeera, melaporkan dari Wina bahwa idealnya para diplomat teratas akan memberikan paket yang bisa menjaga agar kesepakatan itu tetap pada porsinya.

“Ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Eropa tidak memiliki sarana politik yang cukup untuk melindungi kesepakatan Iran dari tekanan AS,”.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *