Potret Bomber Surabaya di Mata Tetangga Dan Masyarakat Setempat

Potret Bomber Surabaya di Mata Tetangga Dan Masyarakat Setempat, Sejak kepindahan keluarga Dita dari daerah Tembok Dukuh ke Perumahan Wisma Indah pada 25 September 2012, belum pernah sekalipun Dita menyetorkan fotokopi Kartu Keluarga atau KTP kepada Ketua RT.

Lima bulan lalu, cerita Khorihan, ia pernah menagih fotokopi KK agar segera diserahkan untuk keperluan administrasi tingkat RT. Setelah dua minggu tanpa respons, ia menyampaikan lagi, kali ini kepada salah satu putra Dita. Namun, tidak ada balasan.

Akhirnya, Khorihan datang ke rumah Dita untuk menagih kembali. Khorihan tidak masuk ke rumah dengan alasan “sudah cukup kesal.” Dengan nada suara yang agak meninggi dari biasanya, ia menagih fotokopi KK. Tetapi, hasilnya tetap nihil. Dita hanya menjawab singkat “iya” tanpa menuruti permintaan sang ketua RT.

Image and video hosting by TinyPic

Nyatanya, ulah Dita ini agak merepotkan Khorihan ketika didesak anggota Polsek setempat saat mulai melakukan penyelidikan pada Minggu siang, sekitar pukul 11, tiga jam setelah rentetan ledakan di tiga gereja.

Polisi menyodorkan nama Puji Kuswati beserta alamat rumah Blok K-22 kepada Khorihan. Ini didapat kepolisian dari pelat nomor pelaku bom bunuh diri yang tertinggal di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela. Khorihan mengatakan tidak ada warganya bernama Puji, meski alamat rumah mengarah kepada Dita.

Meski dikenal sebagai orang yang sopan dan kerap menyapa para tetangga, Dita adalah sosok yang irit bicara. Di musala, yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah mereka, seusai menunaikan salat, Dita dan kedua putranya langsung beranjak pulang. Mereka tidak terlibat percakapan dengan jemaah di musala.

Agen kasino yang menyediakan berbagai Permainan
Baccarat I Rouletter I Dragon Tiger I Sicbo I Online Slots
Di Tunggu Pendaftaran nya ya 🙂

silahkan add pin bbm kami : D8C88BC6
Terima Kasih

Lingkungan Wisma Indah memang punya suasana tenang dan cenderung sepi. Para tetangga terdekat mengaku tak pernah berbicara secara akrab dengan Dita selain hanya bertegur sapa.

Bagaimana dengan Puji Kuswati?

Informasi dari Khorihan, sudah dua bulan terakhir Puji tidak ikut arisan bulanan ibu-ibu perumahan. Saya menemui Yayuk, anggota arisan bulanan dari ibu-ibu PKK. Ketika menghadiri arisan bulanan, Puji tidak terlihat memakai cadar, melainkan berjilbab biasa.

Image and video hosting by TinyPic

“Biasanya hadir, terus enggak ada. Saya enggak nanya-nanya karena saya bukan petugas RT, ya,” ujar Yayuk.

Yayuk adalah jemaat GKI Diponegoro, satu dari tiga gereja yang jadi sasaran serangan bom bunuh diri keluarga Dita Oepriarto. GKI Diponegoro adalah sasaran Puji Kuswati yang membawa kedua putrinya, yang meledakkan diri di lokasi parkir motor, melukai Yesaya Bayang, seorang satpam.

Ketika Yayuk mendengar informasi ini, ia tercekat. Mungkin sebuah kebetulan, mungkin sebuah nasib baik, pada Minggu pagi itu, 13 Mei, Yayuk tidak beribadah di GKI Diponegoro, melainkan di gereja lain.

“Baik sekali orangnya. Ramah, baik sekali,” ujar Yayuk, seakan tak percaya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *